Sistem Pendukung Keputusan merupakan suatu sistem
interaktif yang mendukung keputusan dalam proses pengambilan keputusan melalui
alternatif–alternatif yang diperoleh dari hasil pengolahan data, informasi dan
rancangan model. Dari pengertian sistem pendukung keputusan maka dapat
ditentukan karakteristik antara lain :
1. Mendukung proses pengambilan
keputusan, menitikberatkan pada management
by perception.
2. Adanya interface manusia / mesin
dimana manusia (user) tetap memegang
control proses pengambilan keputusan.
3. Mendukung pengambilan keputusan untuk
membahas masalah terstruktur, semi terstruktur dan tak struktur.
4. Memiliki kapasitas dialog untuk
memperoleh informasi sesuai dengan kebutuhan.
5. Memiliki subsistem – subsistem yang
terintegrasi sedemikian rupa sehingga dapat berfungsi sebagai kesatuan item.
6. Membutuhkan struktur data
komprehensif yang dapat melayani kebutuhan informasi seluruh tingkatan
manajemen
Dalam sistem pendukung keputusan terdapat tiga keputusan
tingkatan perangkat keras maupun lunak. Masing – masing tingkatan berdasarkan
tingkatan kemampuan berdasarkan perbedaan tingkat teknik, lingkungan dan tugas
yang akan dikerjakan. Ketiga tingkatan tersebut adalah :
a. Sistem
Pendukung Keputusan (Specific DSS)
b. Pembangkit
Sistem Pendukung Keputusan (DSS Generator)
c. Peralatan
Sistem Pendukung Keputusan
Dalam sistem
pendukung keputusan terdapat tiga jenis keputusan, yaitu :
1. Keputusan Terstruktur
Keputusan terstruktur adalah keputusan yang dilakukan secara
berulang-ulang dan bersifat rutin. Informasi yang dibutuhkan spesifik,
terjadwal, sempit, interaktif, real time, internal, dan detail. Prosedur yang dilakukan untuk pengambilan
keputusan sangat jelas. Keputusan ini terutama dilakukan pada manajemen tingkat
bawah. Contoh: Keputusan pemesanan barang dan keputusan penagihan piutang; menentukan kelayakan lembur,
mengisi persediaan, dan menawarkan kredit pada pelanggan.
2. Keputusan Semiterstruktur
Keputusan semiterstruktur adalah keputusan yang mempunyai sifat
yakni sebagian keputusan dapat ditangani oleh komputer dan yang lain tetap
harus dilakukan oleh pengambil keputusan. Informasi yang dibutuhkan folus,
spesifik, interaktif, internal, real time,
dan terjadwal. Contoh: Pengevaluasian kredit, penjadwalan produksi dan
pengendalian sediaan, merancang
rencana pemasaran, dan mengembangkan anggaran departemen.
3. Keputusan Tidak Terstruktur
Keputusan tak terstruktur adalah keputusan
yang penanganannya rumit karena tidak terjadi berulang-ulang atau tidak selalu
terjadi. Keputusan ini menuntut pengalaman dan berbagai sumber yang bersifat
eksternal. Keputusan ini umumnya terjadi pada manajemen tingkat atas. Informasi yang dibutuhkan umum,
luas, internal, dan eksternal. Contoh:
Pengembangan teknologi baru, keputusan untuk bergabung dengan perusahaan lain, perekrutan
eksekutif.
2.3 Tahapan
dan Sistem Pendukung Pengambilan Keputusan
Menurut
Simon, proses pengambilan keputusan meliputi tiga fase utama yaitu inteligensi,
desain, dan kriteria. Ia Kemudian menambahkan fase keempat yakini implementasi
(Turban, 2005).
1.
Fase Inteligensi
Intelegensi
dalam pengambilan keputusan meliputi scanning (Pemindaian) lingkungan,
entah secara intermiten ataupun terus-menerus. Inteligensi mencakup berbagai
aktivitas yang menekankan identifikasi situasi atau peluang-peluang masalah. Tahapan
dalam fase intelegensi antara lain identifikasi masalas (peluang), klasifikasi
masalah, dan kepemilikan masalah.
2.
Fase Desain
Fase desain
meliputi penemuan atau mengembangkan dan menganalisis tindakan yang mungkin
untuk dilakukan. Hal ini meliputi pemahaman terhadap masalah dan menguji solusi
yang layak. Tahapan dalam fase intelegensi antara lain memilih sebuah prinsip
pilihan, mengembangkan (menghasilkan) alternatif-alternatif, dan mengukur hasil
akhir.
3.
Fase Pilihan
Pilihan merupakan
tindakan pengambilan keputusan yang kritis. Fase pilihan adalah fase di mana
dibuat suatu keputusan yang nyata dan diambil suatu komitmen untuk mengikuti
suatu tindakan tertentu. Batas antara fase pilihan dan desain sering tidak
jelas karena aktivitas tertentu dapat dilakukan selama kedua fase tersebut dank
arena orang dapat sering kembali dari aktivitas pilihan ke aktivitas desain.
Sebagai contoh, seseorang dapat menghasilkan alternatif baru selagi
mengevaluasi alternatif yang ada. Fase pilihan meliputi pencarian, evaluasi,
dan rekomendasi terhadap suatu solusi yang tepat untuk model. Sebuha solusi
untuk sebuah model adalah sekumpulan nilai spesifik untuk variabel-variabel
keputusan dalam suatu alternatif yang telah dipilih.
4.
Fase Implementasi
Pada
hakikatnya implementasi suatu solusi yang diusulkan untuk suatu masalah adalah
inisiasi terhadap hal baru, atau pengenalan terhadap perubahan. Definisi
implementasi sedikit rumit karena implementasi merupakan sebuah proses yang
panjang dan melibatkan batasa-batasan yang tidak jelas. Pendek kata,
implementasi berarti membuat suatu solusi yang direkomendasikan bisa bekerja,
tidak memerlukan implementasi suatu sistem komputer.
Beberapa
keuntungan penggunaan SPK antara lain adalah sebagai berikut (Surbakti, 2002):
1. Mampu mendukung pencarian
solusi dari berbagai permasalahan yang kompleks.
2. Dapat
merespon dengan cepat pada situasi yang tidak diharapkan dalam konsisi yang
berubah-ubah.
3. Mampu
untuk menerapkan berbagai strategi yang berbeda pada konfigurasi berbeda secara
cepat dan tepat.
4. Pandangan
dan pembelajaran baru.
5. Sebagai
fasilitator dalam komunikasi.
6.
Meningkatkan kontrol manajemen dan kinerja.
7. Menghemat biaya
dan sumber daya manusia (SDM).
8. Menghemat
waktu karena keputusan dapat diambil dengan cepat.
9.
Meningkatkan efektivitas manajerial, menjadikan manajer dapat bekerja lebih singkat
dan dengan sedikit usaha.
10.
Meningkatkan produktivitas analisis.
Adapun
komponen-komponen dari SPK adalah sebagai berikut.:
1. Data Management
Termasuk
database, yang mengandung data yang relevan untuk berbagai situasi dan
diatur oleh software yang disebut Database Management System (DBMS).
2. Model Management
Melibatkan
model finansial, statistikal, management science, atau berbagai model
kualitatif lainnya, sehingga dapat memberikan ke sistem suatu kemampuan
analitis, dan manajemen software yang dibutuhkan.
3. Communication
User
dapat berkomunikasi dan memberikan perintah pada DSS melalui subsistem ini. Ini
berarti menyediakan antarmuka.
4.
Knowledge Management
Subsistem
optional ini dapat mendukung subsistem lain atau bertindak atau bertindak
sebagai komponen yang berdiri sendiri.

0 komentar:
Posting Komentar